KONSULTAN GEOLISTRIK PONTIANAK

 

KEGIATAN LAPANGAN GEOLISTRIK DI SINGKAWANG

GEOLISTRIK PONTIANAK, JASA SONDIR PONTIANAK, JASA GEOLISTRIK PONTIANAK, JASA PENGEBORAN AIR TANAH PONTIANAK, PENGEBORAN PONTIANAK, PERTAMBANGAN PONTIANAK, KONSULTAN PONTIANAK, AIR TANAH PONTIANAK, SURVEY GEOLISTRIK PONTIANAK, JASA SURVEY PONTIANAK, KONSULTAN AIR TANAH PONTIANAK, KONSULTAN GEOLISTRIK PONTIANAK

Nilai Resistivitas Batuan

Hasil dari pengukuran geolistrik tahanan jenis adalah arus yang terinjeksikan dan beda potensial terukur. Kemudian nilai Resistansi didapat dari hasil bagi antara beda potensial dengan arus dalam satuan Ohm. Untuk mendapatkan nilai resistivitas batuannya maka nilai resistansi tadi dikalikan dengan faktor geometri dari konfigurasi schlumberger.

Arus listrik dapat merambat pada batuan disebabkan akibat matriks penyusun batuan,  fluida elektrolit  pada pori –  pori atau rekahan batuan,  porositas,  efek kandungan lempung, dan sebagainya. Berikut ilustrasi aliran arus listrik melalui matriks batuan :

Gambar 5.1. Ilustrasi aliran arus litrik pada matriks batuan

Nilai resistivitas pada batuan ini sangat variatif. Untuk mineral logam nilai nya berkisar pada 105 Ohm meter. Begitu juga untuk batuan – batuan lain, komposisi batuan akan mempengaruhi rentang nilai resistivitas terhadap batuan itu. Suatu bahan dengan resistivitas kurang dari 10-5 Ohm meter biasanya didefinisikan sebagai konduktor, sedangkan isolator jika resistivitasnya lebih dari 107 Ohm meter.

Batuan dengan nilai tahanan jenis tertentu akan mampu menjadi medium penghantar arus listrik Tahanan jenis merupakan parameter dari setiap material yang nilainya konstan. Tahanan jenis menunjukkan kemampuan material tersebut untuk  dapat  menghambat  aliran arus  listrik.  Sifat  tahanan  jenis  batuan dibagi menjadi 3 bagian antara lain :

a) Resistif : nilai resistivitas > 107 Ωm

b) Semikonduktif : nilai resistivitas 1 – 107 Ωm

c) Konduktif : nilai resistivitas 10-8 – 1 Ωm

Tabel 5.1. Nilai Resistivitas dari berbagai batuan

MaterialNilaiMaterialNilai
Pyrite0.01 – 100Shale20 – 2.000
Kuarsa500 – 800.000Sand1 – 1000
Kalsit1 x 1012 – 1 x 1013Clay1 – 100
Rock Salt30 – 1 x 1013Air Tanah0.5 – 300
Granit200 – 100.000Air Laut0.2
Andesit1.7 x 102 – 45 x 104Magnetit0.01 – 1000
Basalt200 – 100.000Kerikil100 – 600
Batugamping500 – 10.000Kerikil Kering600 – 10.000
Batupasir200 – 8.000Aluvium10 – 800

5.2       Metode Pengukuran

Pengambilan data geolistrik pada penelitian ini menggunakan konfigurasi Schlumberger. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 lintasan secara horizontal dengan panjang lintasan masing-masing adalah 200 meter

Pengukuran Geolistrik dilakukan pada lokasi yang menjadi pengamatan dalam pelaksaan geolistrik dengan titik koordinat pengukuran geolistrik yang dapat dilihat pada table dibawah sebagai berikut :

Tabel 5.2. Koordinat Titik Pengukuran Geolistrik

  No,Garis Bujur (BT)Garis Lintang (LS)  LU/LS  Ket
DerajatMenitDetikDerajatMenitDetik
11085846.70508.4LUTitik 1
21085846.40508.5LUTitik 2
31085845.60509LUTitik 3

Gambar 5.2. Lokasi pengukuran geolistrik

Pengukuran yang dilakukan menggunakan Resistivitymeter dilakukan secara manual dan ADMT yang secara Otomatis, data yang didapat berupa nilai arus dan tegangan yang di tulis di tabel pengamatan. Data selanjutnya diolah menggunakan software IP2win sedangkan untuk ADMT diollah menngunakan Aplikasi AIDU/Surfer.  Hasil akhir  dari pengolahan data menggunakan software adalah terbentuknya model lapisan bawah permukaan yang dapat menjelaskan mengenai struktur tanah, jenis batuan dan mineral yang terdapat di bagian bawah permukaan daerah tempat dilakukannya kegiatan eksplorasi geolistrik.

       Dokumentasi Pengambilan Tapal Batas Kegiatan Lokasi Geolistrik

Comments

Popular posts from this blog

KONSULTAN GEOLISTRIK PONTIANAK